Anak Terstigma Terus Mendapat Perlakuan Buruk

Anak Terstigma Terus Mendapat Perlakuan Buruk

Peradaban manusia di masa depan selalu ditentukan oleh kualitas pendidikan dan pengasuhan anak yang sesuai dengan nilai-nilai etika publik yang univ

Tuhan Merancang Orang Tua Untuk Tidak Gagal Melindungi Anak
1474 Anak Berada di Pengungsian Pasca Tragedi di Aceh Singkil
32 Organisasi Panti dan Keagamaan Ajak Kampanye Pengasuhan Berbasis Keluarga

peserta child well being

Peradaban manusia di masa depan selalu ditentukan oleh kualitas pendidikan dan pengasuhan anak yang sesuai dengan nilai-nilai etika publik yang universal dan mampu menjawab tantangan zaman. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa. Anak juga memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. Agar setiap anak mampu memikul tanggungjawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, serta memperoleh perlindungan dan terpenuhi hak-haknya.

Situasi anak-anak di Indonesia menunjukkan masih banyaknya pelanggaran atas hak anak. Berbagai Undang-Undang serta kebijakan perlindungan anak sudah dikeluarkan, namun implementasinya maih belum maksimal. Masih banyaknya anak-anak yang putus sekolah, mengalami pernikahan di usia dini, anak-anak yang bekerja, baik untuk tujuan seksual maupun eksploitasi ekonomi,  belum terpenuhinya akta kelahiran, serta masih adanya anak-anak yang harus terjebak dalam perdagangan anak, hidup di pengungsian dan menjadi terstigma karena orang tuanya. Pelanggaran atas pemenuhan hak anak ini merupakan bagian dari belum maksimalnya implementasi atas berbagai kebijakan perlindungan anak. Kondisi ini disepakati para peserta Konferensi Children Well Being pada tanggal 14 sampai 15 September di Hotel All Season Thamrin yang diselenggarakan Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) bekerjasama dengan King Abdullah Bin Abdulazis International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue (KAICIID).

Acara ini dihadiri oleh Ibu Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Bapak Din Syamsudin, para aktifis Muhammadiyah, Nadlatul Ulama, Save The Children, Satgas Perlindungan Anak, Satuan Bakti Pekerja Sosial, para aktifis pejuang hak anak minoritas, serta lintas agama, kepercayaan dan adat.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0
%d bloggers like this: