Lanjut Usia Perlu perhatian lebih

Lanjut Usia Perlu perhatian lebih

Puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional tahun ini dipusatkan di kota Bandung pada tanggal 10 Juli 2019. Harian Kompas kemarin (19/8/2019) juga men

Pengasuhan Berbasis Keluarga
Forum Analisis Kebijakan Staf Ahli Menteri KPPPA Lahirkan 4 Rekomendasi
Gempa Lombok: Hari Pertama Sekolah, Anak Anak Memilih Diluar

Puncak peringatan Hari Lanjut Usia Nasional tahun ini dipusatkan di kota Bandung pada tanggal 10 Juli 2019. Harian Kompas kemarin (19/8/2019) juga menurunkan berita pada halaman muka tentang lansia. Adapun judul yang tulis oleh Kompas adalah, Jangan Biarkan Mereka Tersisih, merupakan judul yang menurut saya sangat penting untuk saya kupas lebih lanjut.

Menteri Sosial RI Agus Gumiwang Kartasasmita mengunjungi salah satu stand peserta pameran dalam rangka Hari Lanjut Usia Nasional 2019 di Monumen Perjuangan Bandung

Di Indonesia sampai saat ini batasan usia lanjut adalah ketika seseorang telah mencapai usia 60 tahun. Dalam suatu kesempatan, Bapak Mentri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengusulkan agar batasan usia lansia dinaikan menjadi 65 tahun. Memang banyak usia pensiun yang diberlakukan di Indonesia pada kisaran 60 tahun. Tetapi yang lebih penting lagi sebetulnya bukan pada batasan usia pensiun. Melainkan aktivitas apa yang bisa dilakukan oleh orang berusia lansia.

Ada 2 masalah pokok pada lanjut usia pada umumnya yang terjadi di seluruh dunia yang tidak sadari oleh hampir semua orang yang berusia lebih muda. Pertama, secara biologis terjadi penurunan kualitas pada fungsi pada organ-organ tubuh orang lanjut usia, terutama organ tubuh internal seperti ginjal, jantung, paru dan organ internal lainnya. Hal ini dapat berpengaruh pada kualitas kegiatan fisik yang juga menurun. Kecuali orang-orang yang setiap hari rutin olah raga dan rutin terkena cahaya matahari pagi, dapat memiliki organ internal yang lebih sehat.

Kedua, karena sudah memasuki usia pensiun maka penghailan yang mereka terima jauh lebih kecil. Ibarat pepatah mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah kesehatan menurun, dimana dibutuhkan lebih banyak pengeluaran, penerimaan para lansia justru menurun. Kondisi ironis ini terjadi diseluruh belahan dunia. Kecuali di beberapa negara tertentu seperti di negara Jepang dan Jerman telah memiliki aturan yang cukup komprehensif dalam penangan usia lanjut di negara mereka.

Selain kondisi ironic tersebut, ada 1 masalah laten yang juga tidak boleh dianggap enteng, dan saya pikir itu sebabnya harian Kompas mengangkatnya sebagai judul utama, yakni tersisih. Anak-anak para lansia pada umumnya sedang berada pada usia puncak prestasi. Atau justru sedang mengembangkan karirnya. Karena umumnya anak-anak para lansia sedang berada pada umur antara 35 tahun sampai 50 tahun. Pada usia tersebut umumnya sedang naik ke puncak karir atau masih di tangga karir. Sehingga kesibukan anak-anak lansia ini juga teramat sangat. Berangkat kerja pagi hari, dan pulang kerja menjelang waktu istirahat malam.

Pada saat ahir pekan tidak jarang mereka masih harus ikut kegiatan sosial seperti menghadiri berbagai undangan pernikahan. Selain itu mereka isi juga dengan kegiatan berkumpul bersama anak-anak mereka. Sehingga akibatnya para lansia selama 7 hari seminggu dan 24 jam sehari mengalami kesepian. Perasaan kesepian seperti ini selain jarang diungkap oleh para lansia kepada anak-anaknya, juga jarang menjadi perhatian dari anak-anak para lansia. Akibatnya semakin hari para lansia semakin menderita kesepian dan pada ahirnya menderita depresi.

Disamping masalah kesepian, para lansia ini membutuhkan lebih banyak belanja dari pada ketika mereka masih lebih muda. Hal ini disebabkan lansia lebih membutuhkan extra asupan berupa vitamin tertentu dan suplemen tertentu untuk merawat kesehatan agar tetap sehat. Untuk itu diperlukan adanya tambahan penerimaan uang yang akan tetapi justru pada usia lansia umumnya sudah memasuki usia pensiun, sehingga justru penerimaan uang malah berkurang. Pada kondisi seperti ini lagi-lagi para lansia menjadi kelu lidah untuk meminta uang kepada anaknya.

Oleh karena itu diperlukan kebijaksanaan dari kita semua untuk mampu mengendalikan diri dalam membelanjakan uang sehingga jangan sampai pada saat kita membutuhkan uang malah uang yang ada di tabungan sudah habis.

Tantyo Adji Sudharmono – Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS)

 

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0
%d bloggers like this: