Mereka Yang ‘Spesial’ Hadir di Puncak HAN

Satgas PA memilih 6 anak Indonesia untuk hadir pada Puncak HAN di Istana Bogor   Istana Bogor akan menjadi tempat acara puncak Hari Anak Nasion

DIN Ajak Kembalikan Hak Anak Yang Terusir
Muhammadiyah Ajak Masjid Tanggulangi Tingginya Angka Perceraian
Himbauan Lintas Sektor Kasus Kekerasan Seksual PNF

Satgas PA memilih 6 anak Indonesia untuk hadir pada Puncak HAN di Istana Bogor

 

Istana Bogor akan menjadi tempat acara puncak Hari Anak Nasional yang diselenggarakan Menteri Sekretaris Negara dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang akan dihadiri Bapak Presiden Joko Widodo.

Hari Anak ini akan terasa istimewa karena beberapa petugas acara akan langsung di perankan oleh anak anak Indonesia. Dalam gladi resik yang di hadiri Ibu Yohana Yambise secara langsung menyaksikan berbagai performance anak-anak yang akan disajikan di panggung utama. Sekitar 3000 anak Indonesia akan memenuhi Istana Bogor dengan keceriaan masing-masing. Tentunya ada harapan dihati anak-anak yang hadir.

Dalam kesempatan kali ini, Puncak Hari Anak juga akan dihadiri beberapa anak yang sama sekali belum pernah tahu bahwa Indonesia punya Hari Anak. Mereka adalah 6 dari 10 anak Indonesia yang tinggal di pinggir pinggir sudut kota dengan berbagai pengalaman hidup dan kondisi khususnya. Meski tak jauh dari Ibukota dan berada di ujung tapal batas kota, mereka seringkali tak dapat merasakan langsung gegap gempita Hari Anak Nasional yang sudah dirayakan sejak tahun 1984. Dalam wawancara yang dilakukan pendamping dari Satuan Tugas Perlindungan Anak (Satgas PA) mereka sangat antusias bahkan menitikan air mata ketika tim mendatangi dan memberikan undangan kepada anak-anak, yang tidak menyangka mereka terpilih bersama 3000 anak Indonesia lainnya yang akan hadir. Tentunya ada alasan mengapa anak-anak cerdas tersebut terpilih menjadi duta dari Satgas PA di acara HAN tersebut.

Inilah kisah mereka:

  1. Azizah

Azizah berumur 14 tahun duduk di kelas 3 SMP di Manislor Kuningan. Sangat menyukai kegiatan ekskul Patroli Keamanan Sekolah (PKS) karena belajar bersama Polisi tentang aturan berlalu lintas  dan tata tertib berlalu lintas. Pramuka juga menjadi pilihan ekskulnya dan keduanya dipilih karena suka penjelajahan yang dilakukan serta menghadapi rintangan. Cita citanya bila selesai SMA nanti akan kuliah kedokteran. Harapannya tidak ada kekerasan pada anak anak Indonesia dan semua anak punya hak untuk diperlakukan sama, jangan kami diperlakukan kasar lagi. ketika dikonfirmasi tentang undangan HAN, Azizah menjawab senang sekali karena selama ini hanya mendengar ada Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli, tapi belum pernah ikut dan belum pernah di undang, dan di sekolah pun belum pernah merayakan.

 

  1. Anisa

Lidya berumur 13 tahun  duduk di kelas 1 SMP di wilayah Pamijahan. Suka sekali naik sepeda pasca sholat subuh. Sudah tiga kali khatam Al-Quran dan hapal Juz Amma. Selain mendalami Ilmu Alquran Lidya sangat senang dengan kegiatan ekskul English Club. Alasannya kita bisa tahu negara lain dan lebih suka membaca dan menonton budaya negara Turki. Lidya paling benci bila ada orang mencaci maki orang lain tidak baik mencaci maki karena belum tentu orang tersebut salah. Pemenang lomba hafalan Alquran ini bercita cita menjadi Arsitek. Ketika ditanya tentang harapan untuk Indonesia, jawabannya sangat panjang, ingin Indonesia aman, maju terus, damai dan bebas ancaman narkoba serta yang kekurangan kita bantu. Ketika ditanya mengapa bebas dari ancaman narkoba?, jawabannya Lidya sedih melihat kakak kelasnya dipenjara akibat narkoba. Ketika ditanya Lidya senang di undang di HAN tahun ini? ya senang banget…(sambil menggoyangkan badan karena kesenangan) abisnya tidak pernah bisa bertemu teman-teman se-Indonesia dan belum pernah ke Istana Presiden.

  1. Rafli

Rafli berumur 11 tahun dan duduk di kelas 1 SMP. Hobby Futsal dengan posisi Kiper. Menyukai pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Paling benci melihat tawuran karena sering melihat sepulang sekolah di Cimayang Bogor anak SMP saling serang “tidak tahu apa masalahnya tiba-tiba ada perintah serang…serang….dan saya jadi takut pulang ke rumah dan menjadi terlambat sampai di rumah”. Rafli ingin sekali ketemu Presiden walau hanya untuk salaman sambil menyampaikan salam dari teman temannya di Cisalada. Rafli hanya ingin Bapak Presiden sayang pada anak-anak kampung seperti Rafli yang tinggal di ujung kampung dan buntu. Mengaku ingin sekali bisa menjadi pemain bola seperti Messi dan membanggakan Indonesia dengan memenangkan bola katanya. Terakhir Rafli menyampaikan ingin jadi sarjana dan membanggakan orang tua.

 

  1. Nadim

Nadim berumur 11 tahun duduk di kelas 6 SD. Mengaku di sekolah paling suka pelajaran Bahasa Sunda, karena dia senang dan alasannya gampang untuk menjawabnya. Nadim menyampaikan pesan kepada kita semua bahwa anak butuh situasi belajar yang nyaman dan menyenangkan, sehingga anak dapat mencerna dengan baik semua pelajaran yang diberikan.  Nadim mempunyai hobby menanam. Ketika ditanya apa saja yang sudah pernah ditanam, Nadim menjawab padi, cabe, terong, kacang panjang dan buncis. Paling suka kalau sudah panen namun paling sedih kalau hasil panennya dimakan serangga. Kalau di sekolah Nadim merasa heran entah mengapa masih saja ada teman yang mengajak untuk berantem. Prestasi yang pernah didapatkan adalah lomba juara 2 pidato di sekolah. Harapan kedepan ingin sekolah punya lapangan sepakbola, meski suka bermain bola dan menjadi penyerang ternyata sekolah kami belum memiliki lapangan. Cita cita ingin menjadi Polisi alasannya agar bisa melindungi teman teman dan keluarga.

  1. Abay

Abay, berumur 10 tahun dari Semplak Bogor, duduk dikelas 5 SD. Suka pelajaran Matematika. Dan punya obsesi besar di dunia badminton, seperti Taufik Hidayat katanya. Paling tidak suka buah karena punya pengalaman makan pisang muntah. Cita cita ingin jadi atlet badminton. Abay sangat apresiatif ketika ditanyakan kehadirannya di Puncak Hari Anak Nasional besok, tiba-tiba meneteskan air mata, ketika ditanya ada apa? Abay lagi sakit pusing, tapi Abay mau hadir pingin tahu banyak apa itu Hari Anak, katanya. Abay lebih banyak hanyut dengan perasaannya yang senang namun sedih tanda sesuatu sedang dipikirkannya.

 

  1. Edo

Edo panggilannya, dia lahir tanggal 4 Juni 2001. Kelas III SMP di Bogor. Sejak usia 9 tahun Edo terlihat kritis dan makin cerdas. Edo menyabet juara I lomba band antar kelas dan juga aktif di tim band sekolahnya. Seperti anak-anak lainnya, Edo juga punya rasa suka dan tidak suka. Dia suka menggunakan sepeda kemana-mana dan bermain gitar, akibat kesukaannya membawa gitar dia selalu diminta mengiringi lagu saat ibadah di gerejanya. Edo memiliki sifat penyayang dengan sesama dan dia tidak suka jika ada orang yang ingkar dengan janji dan perkataannya sendiri yang membuat orang lain jadi susah. Edo pun tidak segan untuk menolong orang tersebut walau Edo pun butuh di tolong juga…Harapannya pada Indonesia cukup yakin, bahwa Indonesia harus menjadi lebih baik dalam segala hal, baik itu ekonomi, pendidikan, toleransi dan lain-lain.  Ketika dikonfirmasi tentang reaksi Edo tentang undangan untuk hadir di HAN Istana Bogor? senang bisa bertemu secara langsung, dan semoga Edo bisa menyampaikan pesan khusus kepada Bapak Presiden… ketika ditanya apa pesannya, Edo hanya tersenyum.

 

Kisah anak-anak diatas adalah bagian dari ruang partisipasi anak yang dilindungi oleh UU Perlindungan Anak dan negara harus memfasilitasinya. 10 anak ini akan didampingi oleh lima orang pendamping dan Satgas PA. Selamat bersenang-senang sambil berjuang mewakili anak-anak Indonesia lainnya.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0
%d bloggers like this: